Bedah Surau

Jumat, 21.15 WIB

Kita memang tidak mempunyai kendali akan seluruh aspek kehidupan. Fahru sangat merasakannya ketika sang ibunda meninggal sejak 3 tahun lalu karena penyakit gula yang sudah di derita sejak lama. Sedangkan sang ayah yang bernama Bapak Enea (50 thn) bekerja sebagai pemulung barang bekas di Tambun sejak Fahru duduk di Sekolah Dasar. Saat ibunya sakit, Fahru selalu merawat ibunya mulai dari menyiapkan makanan, memandikan, cuci pakaian hingga bersih-bersih rumah.
Kini, karena keterbatasan biaya, Fahru harus hidup menumpang di rumah keluarga kakak perempuannya. Meskipun begitu Fahru kerap tidur di Mushala karena tidak ingin menjadi beban/ tanggungan bagi sang kakak. Untungnya, Fahru saat ini memiliki pekerjaan sebagai pengajar paskibra di 2 tempat : SMP swasta dengan penghasilan Rp 500.00/bulan dan di kantor kabupaten dengan penghasilan Rp 300.000/pertemuan (1 bulan ada 5x pertemuan). Terkadang Fahru dan teman-temannya suka dipanggil untuk mengisi acara hajatan sebagai grup music hadrah marawis dan tiap anggotanya dibayar sebesar Rp 50.000.
Sosok ibunda adalah figur yang paling dekat dengannya. Semasa hidup sang ibu, Fahru selalu dipesankan untuk tidak meninggalkan ibadah shalat. Karena hal itu, Fahru membalas budi almarhumah dengan selalu membangunkan warga untuk shalat subuh. Motivasi Fahru menjadi guru pengajian karena ia ingin melihat semua anak-anak kampungnya bisa membaca Al-Quran.Terlebih sewaktu kecil fahru memiliki pengalaman tidak bisa mengaji karena tak ada guru yang mengajarkan.




Family 100 Indonesia

Bedah Rumah

Uang Kaget